Pembiayaan Syariah vs Konvensional: Mana yang Lebih Menguntungkan?

Qverse.id
Pebisnis melihat grafik dan data di kantor

Pertanyaan "mana yang lebih menguntungkan, pembiayaan syariah atau konvensional?" sering muncul, tetapi jawabannya tidak sesederhana membandingkan angka bunga dengan margin. Kedua sistem ini dibangun di atas logika yang berbeda, sehingga cara menilai keuntungannya pun perlu disesuaikan dengan kebutuhan dan profil risiko masing-masing bisnis.

Perbedaan Struktur Dasar

Pembiayaan konvensional pada umumnya menggunakan sistem bunga, di mana peminjam wajib membayar persentase tetap dari pokok pinjaman, terlepas dari kondisi bisnis peminjam.

Pembiayaan syariah sebaliknya tidak mengenal bunga. Sebagai gantinya, skema pembiayaan syariah menggunakan:

  • Margin keuntungan yang disepakati di awal, seperti pada akad murabahah
  • Sistem bagi hasil yang besarannya bergantung pada kinerja usaha, seperti pada akad mudharabah dan musyarakah

Perbedaan struktur ini membuat kedua sistem memiliki karakteristik risiko yang berbeda. Pada pembiayaan konvensional, kewajiban pembayaran bersifat tetap dan dapat diprediksi sejak awal, sehingga peminjam tahu persis berapa yang harus dibayar setiap periode. Pada pembiayaan syariah berbasis bagi hasil, kewajiban dapat naik atau turun mengikuti performa bisnis, sehingga secara struktural lebih fleksibel saat bisnis mengalami tekanan, tetapi juga berarti biaya yang dikeluarkan bisa lebih tinggi saat bisnis sedang tumbuh pesat.

Kepastian Pembayaran vs Keterkaitan dengan Performa Bisnis

Tumpukan koin di atas dokumen keuangan, melambangkan biaya dan kewajiban pembayaran pembiayaan

Untuk akad berbasis jual beli seperti murabahah, pembiayaan syariah sebenarnya menawarkan kepastian yang mirip dengan pembiayaan konvensional, karena margin dan jadwal pembayaran sudah disepakati sejak awal dan tidak berubah selama masa pembiayaan. Dari sisi ini, keduanya relatif setara dalam hal prediktabilitas biaya, sehingga perbedaan yang paling mencolok bukan pada besaran biaya, melainkan pada mekanisme di baliknya: bunga dihitung dari pokok pinjaman yang tersisa, sementara margin murabahah dihitung dari harga jual barang yang telah disepakati di muka.

Perbedaan yang lebih signifikan justru terlihat pada akad berbasis kerja sama usaha seperti mudharabah atau musyarakah, di mana pemberi dana turut menanggung risiko kerugian usaha sesuai porsi modal yang disertakan. Dalam skema konvensional, risiko kerugian usaha sepenuhnya ditanggung peminjam, sementara pemberi pinjaman tetap berhak atas pembayaran bunga sesuai perjanjian.

Karakteristik inilah yang membuat pembiayaan syariah berbasis bagi hasil relevan bagi bisnis yang menginginkan pembagian risiko yang lebih adil, terutama pada tahap usaha yang masih memiliki ketidakpastian pendapatan yang tinggi. Sebaliknya, pembiayaan konvensional atau pembiayaan syariah berbasis jual beli lebih cocok bagi bisnis yang mengutamakan kepastian kewajiban pembayaran dan sudah memiliki arus kas yang stabil.

Bukan Hanya Soal Biaya, tetapi Juga Prinsip dan Transparansi

Selain aspek biaya, pembiayaan syariah menawarkan nilai tambah berupa kejelasan akad dan larangan terhadap unsur riba, gharar, maysir, zhulm, dan risywah. Setiap transaksi harus memiliki objek yang jelas, kesepakatan yang transparan sejak awal, serta kewajiban yang tidak boleh merugikan salah satu pihak secara sepihak.

Bagi sebagian pebisnis, terutama yang mengutamakan kesesuaian dengan prinsip syariah dalam menjalankan usaha, nilai ini menjadi pertimbangan yang tidak kalah penting dibandingkan sekadar besaran biaya pembiayaan.

Faktor yang Perlu Dipertimbangkan Sebelum Memilih

Sebelum skema mana yang lebih menguntungkan, ada beberapa hal yang perlu dipertimbangkan pebisnis:

  • Jenis kebutuhan dana — apakah untuk pembelian aset atau kerja sama usaha
  • Toleransi terhadap fluktuasi kewajiban pembayaran
  • Stabilitas arus kas bisnis saat ini
  • Preferensi terhadap kepatuhan prinsip syariah dalam menjalankan usaha

Bisnis dengan arus kas yang masih fluktuatif mungkin lebih diuntungkan oleh skema bagi hasil, sementara bisnis dengan pendapatan yang lebih stabil dapat mempertimbangkan skema dengan kewajiban tetap, baik itu bunga konvensional maupun margin murabahah.

Jadi, Mana yang Lebih Menguntungkan?

Pada akhirnya, tidak ada jawaban tunggal yang berlaku untuk semua kondisi bisnis.

  • Pembiayaan konvensional bisa lebih menguntungkan bagi bisnis yang mengutamakan kepastian biaya dan sudah terbiasa dengan struktur bunga tetap
  • Pembiayaan syariah berbasis jual beli menjadi pilihan yang setara dari sisi kepastian biaya, sekaligus menawarkan struktur yang bebas dari unsur bunga
  • Pembiayaan syariah berbasis bagi hasil lebih menguntungkan bagi bisnis yang menginginkan pembagian risiko yang selaras dengan kinerja usaha

Yang lebih penting bagi pebisnis bukanlah mencari jawaban mana yang secara mutlak lebih untung, melainkan memahami struktur, risiko, dan konsekuensi dari masing-masing skema, lalu menyesuaikannya dengan kebutuhan dana, arus kas, dan toleransi risiko usaha yang sedang dijalankan.

Referensi

Otoritas Jasa Keuangan (OJK). POJK tentang Penyelenggaraan Usaha Pembiayaan Syariah. Regulation https://ojk.go.id/id/regulasi/Pages/POJK-tentang-Penyelenggaraan-Usaha-Pembiayaan-Syariah.aspx
BFI Finance. 8 Differences Between Sharia and Conventional Financing. Article https://www.bfi.co.id/en/blog/8-perbedaan-pembiayaan-syariah-dan-konvensional
Kontan.co.id. Ekonom Ungkap Faktor Pembiayaan Syariah Tumbuh Kencang Ketimbang Kredit Konvensional. News https://keuangan.kontan.co.id/news/ekonom-ungkap-faktor-pembiayaan-syariah-tumbuh-kencang-ketimbang-kredit-konvensional#goog_rewarded

Suka dengan artikel ini? Bagikan kepada rekan Anda.

Artikel Terkait

Amplify

Cara Mudah Mengembangkan Bisnis Anda.

Bergabunglah dengan Qverse dan dapatkan akses instan ke pembiayaan dengan mengisi formulir.